05 Maret 2008

Pengembangan Masyarakat - ANTAM

Sumber : http://www.antam.com/News/Publications/AR/annual%20report%202004/ind/11_comdev/4.htm


Filosofi pengembangan masyarakat Antam yang tercantum dalam PKP adalah bahwa Antam memiliki komitmen untuk berpartisipasi dalam pengembangan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan dengan mendayagunakan semua potensi-potensi yang ada di lingkungannya.

Kegiatan pengembangan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan dilakukan secara tepat sasaran melalui partisipasi pro aktif perusahaan dan tidak sekedar memberikan bantuan finansial atau fisik semata. Program pengembangan masyarakat selalu disinkronkan dengan program pemerintah setempat atau instansi terkait, dengan tetap memperhatikan sosial budaya masyarakat serta kemampuan unit bisnis.


Pada tahun 2004, Antam mengintensifkan kegiatan pengembangan masyarakat terutama di sekitar wilayah operasional pertambangan, seperti tambang emas Pongkor sebagai bagian dari rencana terpadu mengurangi jumlah pelaku PETI yang beroperasi di Taman Nasional Gunung Halimun yang berdekatan dengan tambang emas Pongkor. Kegiatan PETI pada umumnya di daerah permukaan yang berlokasi di Taman Nasional Gunung Halimun sementara kegiatan penambangan perusahaan merupakan penambangan bawah tanah.


Kegiatan pengembangan masyarakat berupa bantuan pembangunan sarana dan prasarana umum, bantuan bidang pendidikan dan kesehatan maupun pemberian prioritas bagi usahawan lokal dan tenaga kerja setempat untuk menjadi mitra kerja Antam. Antam juga mengadakan pertemuan reguler dengan anggota masyarakat, pemerintah setempat serta lembaga swadaya masyarakat agar bantuan perusahaan lebih terarah serta untuk mendapatkan masukan dari masyarakat atas program pengembangan masyarakat yang dilakukan perusahaan.


Pada tahun 2004, kegiatan budidaya kacang tanah di Kecamatan Nanggung, Bogor, Jawa Barat yang berada di dekat tambang emas Pongkor telah mulai berproduksi dan hasil produksi tersebut diterima oleh salah satu produsen makanan ringan yang cukup besar di Indonesia. Program yang dirintis pada tahun 2003 ini melibatkan kelompok petani dengan jumlah anggota lebih dari 120 orang. Antam juga membantu mendirikan sentra industri kerajinan di daerah Bogor, Jawa Barat sebagai wadah para perajin mengembangkan usahanya.


Selama tahun 2004, biaya kegiatan pengembangan masyarakat naik 37% dibandingkan tahun 2003 mencapai Rp15,2 miliar. Antam mengalokasikan Rp16,6 miliar untuk kegiatan pengembangan masyarakat pada tahun 2005. Perusahaan juga menyalurkan dana bantuan pinjaman modal melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) sebesar Rp4,2 miliar. Melalui PKBL, Antam membina 630 mitra binaan, naik 175% dibandingkan jumlah mitra binaan pada tahun 2003 sebanyak 360 mitra binaan. Dana program PKBL disisihkan dari 1% laba bersih perusahaan.


Antam turut berpartisipasi dalam upaya meringankan beban para korban gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara, dengan mengirimkan bantuan materi, obat-obatan, tim kesehatan dan tim pengadaan air bersih. Partisipasi ini diwujudkan dengan mengirimkan satu tim pengeboran untuk membantu pengadaan air bersih dan sumbangan uang. Tim pengeboran mengoperasikan satu mesin bor yang mampu membuat sumur artesis dengan kedalaman 100 m, serta memasang 20 mesin pompa air (water jet pump) serta kelengkapan sarana air bersih lainnya.



Pertambangan Tanpa Ijin (PETI)


Kegiatan PETI merupakan salah satu risiko operasional perusahaan yang dapat berdampak pada penurunan pendapatan perusahaan, mempersingkat umur tambang, serta adanya kerusakan dan pencemaran lingkungan. Risiko PETI ini hanya dialami untuk bisnis komoditas emas.


Pada tanggal 2 Maret 2004 terjadi insiden asap yang diperkirakan berasal dari lubang PETI yang berdekatan dengan salah satu lubang di urat Kubang Cicau. Asap tebal yang diperkirakan berasal dari lubang PETI ini kemudian masuk ke lubang operasi Antam dan menyebabkan 11 orang pelaku PETI meninggal dunia serta satu orang karyawan Antam yang berusaha menolong PETI tersebut. Dalam kejadian ini, perusahaan turut membantu evakuasi dan pengurusan jenazah para korban, termasuk para pelaku PETI.


Menyusul musibah ini, Antam telah meningkatkan prosedur maupun peralatan keselamatan di lokasi tambang, diantaranya dengan memasang tambahan dua main blowers enam detektor gas, serta menutup akses PETI yang berhubungan dengan vein Kubang Cicau secara permanen. Pelaku PETI di Pongkor berjumlah 100-200 orang, turun drastis dibandingkan ribuan orang yang beroperasi sekitar tahun 1998-1999. Antam juga kembali mengintensifkan program-program pemberdayaan masyarakat, dengan pemikiran bahwa kerja sama yang baik dengan masyarakat setempat akan dapat menyelesaikan permasalahan PETI yang berkaitan dengan masalah sosial ekonomi. Selain itu Antam juga meningkatkan upaya penertiban pelaku PETI secara terpadu dan berkoordinasi dengan berbagai pihak yang terkait seperti aparat keamanan, tokoh masyarakat, pemerintah daerah serta kerja sama dengan masyarakat sekitar.


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Dalam PKP Antam memperlihatkan bahwa perusahaan memiliki komitmen tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan serta lingkungan kerja. Antam mengembangkan dan menerapkan suatu sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan dengan mengacu kepada peraturan perundangan dan standar yang berlaku dan memastikan semua tahapan kegiatan pertambangan dari tahap perencanaan, operasi dan pasca operasi memenuhi peraturan perundangan dan standar tersebut. Antam berusaha untuk mencapai kecelakaan nihil pada setiap unit kerja dan Antam memiliki catatan angka keselamatan dan kesehatan kerja yang cukup baik baik bagi karyawan maupun kontraktor. Bab 11 PKP mencantumkan bahwa Antam memberikan pelayanan kesehatan berupa promotif (mempertahankan kesehatan), preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan), dan rehabilitatif (pemulihan) bagi pegawai dan keluarganya.

Walaupun standar K3 tersebut memiliki sasaran kecelakaan nihil, sebagai industri yang memiliki faktor risiko kerja tinggi, pada tahun 2004 terjadi satu kecelakaan berakibat fatal. Musibah tersebut menimpa Sdr. Mahdi (alm) karyawan PT Hazama– Murinda Jo subkontraktor pada proyek FeNi III yang terjatuh pada saat melakukan pekerjaan pemasangan tiang penyangga (rafter) dan mengakibatkan saudara Mahdi meninggal dunia. Antam menyatakan prihatin dan menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya.


Pada tahun 2004, Antam kembali memperoleh penghargaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral melalui UBP Nikel Operasi Pomalaa, UBP Emas Pongkor, UBPP Logam Mulia, serta UP Pasir Besi.


Tidak ada komentar: