09 Desember 2005

PT Technip Indonesia, CSR Berdasarkan Kinerja Karyawannya

Tanggal : 9 Desember 2005
Sumber: http://www.dompetdhuafa.org/dd.php?w=indo&x=filantropi&y=detail&z=84c75243953f4c8d66d2a9ad9dbd3ed8

Corporate Social Responsibility (CSR) sering hanya didefinisikan sebagai komitmen perusahaan untuk menyisihkan sebagian keuntu-ngannya demi mendukung kegiatan-kegiatan sosial. Secara umum, duku-ngan terhadap kegiatan-kegiatan sosial juga akan meningkatkan 'pamor' perusahaan. Yang lebih baik lagi, apabila kemudian perusahaan menda-patkan respon yang positif dari masyarakat umum. Bukan hanya po-pularitas, namun keuntungan pun tidak mustahil ditingkatkan.

Memang terasa aneh mengaitkan antara kegiatan sosial dengan laba atau hal-hal yang bernuansa komersial lainnya. Namun, perlu juga kita tangkap pesan yang sangat jelas, bahwa hanya perusahaan yang 'untung' yang dapat memberikan kontribusi secara signifikan pada kegiatan-kegiatan sosial.

PT Technip Indonesia mungkin hanyalah satu dari sekian banyak perusahaan yang telah memberikan kontribusinya pada aktivitas-aktivitas sosial. Namun, ternyata ada keunikan dalam program CSR yang dikembangkan perusahaan ini. Besar kecilnya sumbangan mereka sangat bergantung pada kinerja karyawan. Bukan hanya pada seberapa besar keuntungan yang dapat mereka cetak, tapi juga pada seberapa tinggi tingkat keamanan kerja dan seberapa ramah lingkungannya pekerjaan mereka.

Seperti yang diungkapkan oleh Corporate QA-HSE Manager, PT Technip Indonesia, Kodrat, apabila suatu proyek dapat diselesaikan tanpa adanya kecelakaan yang serius, yang berakibat pada manusia ataupun alam, maka perusahaan memberi reward dengan menyisihkan sejumlah dana untuk kegiatan-kegiatan sosial. "Justru disini kita mendorong para karyawan untuk bekerja dengan hati-hati dan ramah lingkungan. Apabila mereka berhasil, maka manfaatnya akan juga mengalir kepada rakyat miskin, anak yatim dan sebagainya," jelas Kodrat.

Adalah Safety and Environmental Recognition Scheme (SERS) yang menjadi dasar kegiatan CSR di PT Technip Indonesia. Dalam skema tersebut, segala kegiatan-kegiatan positif akan diberikan nilai positif dan kejadian-kejadian yang negatif - seperti kecelakaan kerja, kebocoran limbah, dsb tentu diberi nilai negatif. Secara singkat, diakhir proyek akan diberikan peni-laian menyeluruh atas hasil kinerja keseluruhannya. Apabila memenuhi target positif tertentu, maka reward akan dikeluarkan oleh perusahaan.

"Biasanya, apabila memenuhi target maka perusahaan akan memberikan reward kepada karyawannya, seperti bonus, pesta syukuran atau yang lainnya. Disini, reward justru diberikan dalam bentuk donasi sosial kepada masyarakat yang membutuhkannya," tambah Kodrat. Karena itulah kegiatan sosial apa yang kemudian mendapat dukungan dari PT Technip Indonesia, sebagian besar keputusannya diserahkan kepada pilihan para karyawan. Perusahaan yang kemudian memfasilitasinya.

Dengan skema ini, seperti diungkapkan Kodrat, sudah enam proyek yang dikerjakan PT Technip Indonesia tanpa adanya kecelakaan kerja yang serius. Sebuah perubahan paradigma yang cukup menggugah, karena kita semua sebenarnya sadar bahwa beramal tidak akan pernah merugikan suatu perusahaan atau individu. Tapi justru akan semakin meningkatkan kualitasnya.

25 November 2005

PT Arutmin Indonesia Menuju Community Development

Tanggal:25 November 2005
Sumber: http://www.dompetdhuafa.org/dd.php?w=indo&x=filantropi&y=detail&z=fe4a4efa775a41f562e3c83323e3504d

Karet, Setiabudi, Jakarta. Sepintas, kawasan ini tampak cukup 'mentereng', karena bersinggungan langsung dengan segitiga emas Jalan Sudirman dan Rasuna Said. Namun, kalau menyibak isi dalamnya, di balik gedung-gedung pencakar langit, pemandangan masyarakat miskin kota langsung mencolok.

Realita ibu kota ini memantik peduli PT. Arutmin Indonesia memberikan bantuan Rp 35 juta melalui Dompet Dhuafa (DD). Dana itu nantinya akan dimanfaatkan untuk program pemberdayaan di sekitar Karet, Setiabudi lokasi di mana kantor pusat PT. Arutmin Indonesia berada. Perusahaan nasional yang bergerak di bidang pertambangan batu bara ini merupakan operator dari tiga pertambangan batu bara yang terletak di Provinsi Kalimantan Selatan - Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Kota Baru dan Kabupaten Tanah Tumbuh.

Sejak awal berdiri 1981, perusahaan pertambangan ini telah terlibat langsung dalam program-program sosial di sekitar lokasi pertambangan. Menurut Delma Azrin, Health, Safety, Environmental & Community (HSEC) Superintendent, PT. Arutmin Indonesia, program-program sosial di tahap awal perusahaan berdiri masih sangat sederhana dan umumnya berbentuk charity bagi masyarakat sekitarnya.

"Tahun 1999 adalah masa dimana program community development mulai mendapat perhatian yang serius dan terarah, ditandai dengan dibentuknya Department Community Relations & Community Development dalam perusahaan," jelas Delma. Ia menambahkan bahwa program-program Comdev yang diluncurkan PT Arutmin Indonesia memang dititikberatkan pada masyarakat yang tinggal di seputar wilayah penambangan mereka.

"Namun bagaimanapun, kita memang tidak bisa dengan serta-merta meninggalkan bantuan-bantuan yang bersifat charity kepada masyarakat, terutama karena kondisi sosial-ekonomi masyarakat disana dan terpencilnya daerah tempat tinggal mereka," tambahnya lagi. Karena itulah, saat ini perusahaan menerapkan lima program bantuan dan pemberdayaan untuk membantu masyarakat sekitar mereka. Kelima program tersebut adalah pengembangan ekonomi masyarakat, bantuan pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur dan dana-dana sosial lainnya.

Pengembangan ekonomi masyarakat tentu memiliki dimensi pemberdayaan yang kental. Masyarakat dididik untuk tidak mengandalkan bantuan demi kesejahteraan mereka. Karena itulah Arutmin juga memiliki sejarah kerjasama dengan DD dalam hal program edukasi kepada masyarakat dengan memberikan pelatihan-pelatihan dan motivasi untuk mandiri. DD pun pernah diundang untuk melakukan social mapping di wilayah sekitar pertambangan, sebagai langkah awal pemberdayaan ekonomi. Pada umumnya, usaha-usaha home industry dan agrobisnis menjadi sasaran utama program pemberdayaan masyarakat di sana.

Untuk lebih menstimulasi program pemberdayaan tersebut, Arutmin pun mengembangkan program bantuan dana bergulir. Untuk itu, Delma menekankan arti pentingnya pendamping bagi masyarakat dalam proses ini. "Karena itulah kita juga bekerjasama dengan perguruan tinggi yang ada di provinsi ini, kemudian merekrut sarjana-sarjana terbaik mereka untuk menjadi pendamping masyarakat," ujarnya lagi. Arutmin juga bekerjasama dengan lembaga-lembaga pemberdayaan untuk memberikan bekal pelatihan kepada para calon pendamping masyarakat tersebut. "Pada intinya kita benar-benar ingin membantu masyarakat sekitar untuk dapat berdiri sendiri. Kalau nanti suatu saat Arutmin keluar, kita harap masyarakat tetap dapat hidup sejahtera dengan usaha perekonomian mereka sendiri," ungkap Delma.

04 Oktober 2005

Warna-warna CSR

Tanggal: 4 Oktober 2005
Sumber: http://www.dompetdhuafa.org/dd.php?w=indo&x=filantropi&y=detail&z=f2bd27d285dae59148160c120c769912


Wartawan Kompas, Simon Saragih dalam presentasinya di forum pertemuan Corporate Forum for Community Development (CFCD) ke-11 yang diadakan di gedung Pertamina pusat, 13 September lalu, mengungkapkan bahwa dirinya pernah punya pandangan negatif terhadap korporasi. Namun pada hari itu juga pandangan negatifnya terhadap korporasi memudar setelah mendengar presentasi peran Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan besar terhadap pemberdayaan masyarakat.


Malah di penghujung presentasinya ia mencoret kalimat korporasi yang terangkai dalam hipotesanya. Apakah Pemerintah Pusat, Pemda, Korporasi sudah punya perhatian untuk rakyat miskin di Indonesia? Hipotesa: Jauh panggang dari api … !

Simon barangkali tidak sendiri, banyak kalangan masih meragukan peran korporasi dalam turut serta membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Kalau toh ada yang peduli, sebagian orang melihat kepedulian sosial sebuah perusahaan hanya dipandang sebagai public relation semata.

Hal ini dapat dimafhumi mengingat tidak sedikit perusahaan-perusahaan besar yang nyata-nyata menempatkan departemen CSR-nya sekadar PR. Maka dalam kesempatan yang sama, Drs. Rudi Fajar, Ak., MBA, Ketua CFCD Chapter Riau membuat spektrum pelaku CSR.

Dia membagi ke dalam empat kelompok dengan memberinya tanda warna hitam, mera, biru, dan hijau. Hitam (tidak perlu melakukan CSR) adalah kelompok yang tidak melakukan praktek CSR sama sekali, bahkan bagi karyawannya sendiri sekali pun. Merah (CSR adalah biaya) adalah kelompok yang mulai melaksanakan paraktek CSR; namun mereka masih menganggap praktek CSR adalah merupakan komponen biaya, yang akan mengurangi porsi keuntungan.

Selanjutnya warna Biru (CSR adalah investasi), kelompok ini percaya bahwa praktek CSR yang baik akan memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dalam jangka panjang. Praktek CSR dianggap investasi, bukan lagi komponen biaya. Dan terakhir Hijau (CSR adalah ekuitas), kelompok ini menterjemahkan praktek CSR ke dalam perencanaan strategis usaha dan memasukkannya sebagai core value perusahaan. Mereka bahkan menganggap praktek CSR merupakan kewajiban (lawan dari sukarela) untuk memenuhi kebutuhan perusahaan (yaitu melaksanakan praktek CSR). Praktek CSR diyakini akan menciptakan social capital (ekuitas).

Rudi Fajar di akhir presentasinya lantas melempar pertanyaan kepada peserta forum CFCD ke-11. “Di posisi manakah perusahaan Anda hari ini?” Layaknya budaya bangsa kita, jika dilontarkan pertanyaan jarang yang mau merespon. Biasanya cenderung diam pura-pura tidak tahu atau kurang mendengar. Dalam kebisuan sesaat, seorang peserta dari sebuah perusahaan besar nyeletuk, “Di warna merah!”.

Gelak tawa pun meledak. Entah mentertawakan siapa, tetapi dari semua peserta yang hadir memiliki persepsi sama ingin turut ambil bagian dalam pengentasan kemiskinan. Dugaan bahwa CSR sekadar PR pun coba ditepis oleh PT Pertamina. Menurut Divisi Humas Korporat, CSR Pertamina tidak memiliki alokasi dana khusus untuk mempublikasi program-program CSR-nya. Malah mereka cenderung diam-diam untuk menghindari unsur “pamer”.

Kaitan antara CSR dengan publikasi ini menghadirkan komentar dari seorang peserta, Rusni Kartina, Business Development Manager PT HM Sampoeran Tbk. Menurutnya tidak ada dukungan dari kalangan media massa untuk mempublikasi aktivitas CSR di tanah air. Kalau toh ada konsekuensinya musti membayar dengan cost yang lumayan besar.

Maka Dompet Dhuafa pada kesempatan itu meawarkan diri mengundang perusahaan-perusahaan yang memiliki program CSR untuk memanfaatkan lembar FILANTROPI di Rerublika yang terbit setiap hari Jumat. Tawaran itu memantik respon Simon Saragih, “Saya kira tidak hanya di Republika, Kompas saya rasa juga mendukung”, prolognya saat mengawali presentasi.

Jika demikian, selama CSR berkhidmad pada keberdayaan masyarakat miskin tanpa embel-embel PR, sudah semestinya diberi ruang untuk publikasi. Iskandar Zulkarnai, salah seorang pengusaha muslim misalnya, terang-terangan menegaskan bahwa kepedulian sosial perusahaannya tidak ada kaitannya dengan PR. Bahkan ia membangun perusahaannya dengan landasan sedekah.

Hari ini masyarakat hidup dalam kondisi serba berat. Kalangan dhuafa makin tergilas dalam ketidakberdayaan. Jika perusahaan-perusahaan melalui program CSR-nya terus meningkatkan kepeduliannya, pastilah sangat membantu hidup mereka. Insya Allah perusahaan tidak akan bangkrut karena bersedekah. Justru dengan CSR prestasi keuangan perusahaan akan meningkat.

Hal ini diamini oleh Mantan PM Thailand Anand Panyarachun yang mengatakan: “CSR dipandang suatu keharusan untuk membangun citra yang baik dan terpercaya bagi perusahaan. Melaksanakan praktek-praktek yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial akan meningkatkan nilai pemegang saham, dan berdampak pada peningkatan prestasi keuangan serta menjamin sukses yang berkelanjutan bagi perusahaan.”

Jadi untuk pindah ke warna Hijau tunggu apalagi? sunaryo adhiatmoko

20 September 2005

Karyawan AQUA Dan Petani Bersihkan Saluran Kapiler

Tanggal : 20 September 2005
Sumber : http://www.aqua.com/aqua_v3/ina/danoneaqua_aquacare_detail.php?p_id=4

Saluran irigasi yang mayoritas digunakan untuk mengairi area pertanian adalah sarana yang sangat penting karena menyangkut kebutuhan masyarakat luas akan kebutuhan pangan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Isu kekurangan air untuk pertanian, yang disebabkan oleh kerusakan dan saluran irigasi yang tidak terawat menjadi hal yang menarik untuk dicermati. Pola tata tanam, keberadaan PT Tirata Investama di Klaten, manajemen air, hingga kurangnya semangat gotong royong para petani untuk merawat saluran irigasi menjadikan faktor isu kekurangan air menjadi semakin kompleks.

Masalah ini mendapat perhatian dari aktivitas sosial PT. Tirta Investama di Klaten. Salah satu bukti nyata keikutsertaan adalah menjadi anggota Forum Koordinasi Kapilaler, Ponggok Kanan - Kiri yang bertujuan untuk menciptakan keadilan dalam pemanfaatan air di Saluran Kapilaler, Ponggok Kanan dan Kiri. Forum itu dibentuk pada tanggal 16 Desember 2004 diprakarsai oleh Subdin Pengairan Kabupaten Klaten. Letak sumber Pabrik Klaten memang berada di sekitar sumber Sigedang Kapilaler yang dipergunakan untuk mengairi irigasi.

Sebagai bagian dari masyarakat Klaten, PT. Tirta Investama terlibat berperan nyata menyelesaikan permasalahan yang terjadi, tak terkecuali mendorong semangat para petani dan pengguna air di sekitar aliran Kapilaler untuk merawat saluran Kapilaler. Dengan demikian optimalisasi penggunaan air di saluran Kapilaler dapat terwujud setahap demi setahap. Untuk itulah PT.Tirta Investama Klaten menggagas dan mendukung kegiatan Gerakan Gotong Royong Bersih Saluran Kapilaler yang dilaksanakan oleh Forum Koordinasi DI Kapilaler, Ponggok Kanan - Kiri.

Kegiatan tersebut diadakan pada Hari Minggu pagi, 18 September 2005 dan melibatkan 250 orang yang terdiri dari elemen-elemen pengguna air, seperti petani, karyawan PT. Tirta Investama, PDAM, masyarakat pengguna air, Subdin Pengairan, para Mantri Air, Polsek dan Kecamatan Karang Anom, dan lain-lain. Para peserta yang berasal dari 5 Kecamatan (Polanharjo, Karang Anom, Ceper, Pedan, dan Trucuk) ini menyambut kegiatan ini secara antusias. Bahkan Kepala Subdin Pengairan Djoko Wiryanko, Kapolsek Karang Anom, Camat Karang Anom, dan beberapa pejabat lokal lainnya turut serta berpartisipasi, dan tak segan-segan masuk ke dalam saluran air untuk mengeruk sampah yang mengotori saluran.

Aktivitas ini diliput oleh beberapa media cetak, radio dan televisi lokal. Tim PT Tirta Investama Klaten mengirimkan perwakilan 10 orang karyawan yang dipimpin oleh Emma Siti Rochmah (Plant Manager), didampingi oleh Abdul Hadi (HR CSR) dan Arifin Rahman (Ketua PC SPDAG Klaten) .Kegiatan ini adalah bentuk implementasi konsep Corporate Social Responsibilty, yaitu Perusahaan -- termasuk karyawan -- sebagai bagian dari masyarakat bersama-sama terlibat dalam proses pengembangan masyarakat, dan mengatasi masalah masyarakat itu sendiri.

Seluruh peserta kegiatan ini mengenakan kaos berlogo AQUA, dan membersihkan saluran, penuh semangat. Menjelang tengah hari aktivitas dihentikan dan semua peserta makan siang bersama, menyantap menu ala petani.

23 Juni 2005

AFCSR: Swasta Harus Aktif Kembangkan CSR

Tanggal : 23 Juni 2005
Sumber : http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2005-04-25-Industri-Kapal,-Menanti-Perubahan-Besar.shtml


Kapanlagi.com - Perusahaan swasta harus aktif dalam pengembangan konsep dan pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR), karena bila menunggu inisiatif pemerintah dikhawatirkan regulasi yang muncul tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan swasta tersebut.

"Justru kita harus menghindari jangan sampai pemerintah turun tangan mengurus masalah ini. Sebab bila hal itu terjadi akan banyak peraturan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia swasta," kata pimpinan Asian Forum on Corporate Social Responsibility (AFCSR) Dr. Arifin M Siregar, dalam konferensi pers penyelenggaraan AFCSR di Jakarta, Rabu (22/6).


Lebih lanjut mantan Gubernur Bank Indonesia itu mengatakan , pihak swasta harus mengambil prakarsa dan peduli terhadap lingkungan sekitar tempat usaha mereka.


"Perusahaan swasta harus menyadari bahwa tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) merupakan bagian dari strategi usaha sehingga untuk jangka waktu yang lama kelangsungan usaha mereka terjamin karena memperhatikan lingkungan dan masyarakat," tuturnya.


Masih menurut Arifin M Siregar yang kini menjabat sebagai direksi PT Austindo Nusantara Jaya, inti dari tanggung jawab sosial perusahaan adalah meningkatkan taraf hidup masyarakat dan juga menjaga agar lingkungan hidup tidak rusak.


"Memang dalam pelaksanaannya tidak mudah. Seperti yang terjadi di beberapa daerah, CSR sudah dilakukan tapi ada beberapa kelompok di masyarakat yang tidak puas dan melakukan aksi protes," kata Arifin.


Oleh karena itu agar CSR bisa tepat sasaran, perusahaan harus memiliki hubungan yang baik dengan tokoh masyarakat di daerah tersebut dan juga memahami keinginan dan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.


Sementara itu, Felipe B Alfonso Co-Vice Chairman Asian Institute of Management dalam kesempatan yang sama menambahkan, tanggung jawab sosial perusahaan saat ini telah menjadi kebutuhan dan termasuk ke dalam startegi bisnis sejumlah perusahaan.


"Pada masa yang lalu memang hal ini kurang diperhatikan. Namun kini CSR diajarkan di sejumlah sekolah bisnis dan manajemen," ungkap Felipe.


Felipe melihat di masa yang akan datang, kesadaran pengusaha akan pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan untuk kelangsungan bisnisnya akan semakin meningkat.


"Saat ini tinggal menyeleraskan antara program CSR dengan strategi dan rencana perusahaan sehingga bisa berjalan secara beriringan," tegasnya.


Untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan, maka akan diselenggarakan Asian Forum on Corporate Social Responsibility (AFCSR) pada 8 September hingga 9 September 2005 di Jakarta.


Misi utama dari AFSCR adalah memberikan apresiasi kepada perusahaan di Asia yang memiliki program inovatif di bidang tanggung jawab sosial perusahaan.


Penyelenggaraan AFSCR di Jakarta tersebut merupakan penyelenggaraan keempat setelah sebelumnya diselenggaran pada 2002 di Manila, 2003 di Bangkok, 2004 di Kuala Lumpur.


Arifin M Siregar akan memimpin AFSCR bersama dengan Ramon R del Rosario dari pusat kajian CSR Asia Institute of Management yang berkedudukan di Manila.


"Hasil yang diharapkan dari penyelenggaraan ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa dunia swasta juga mempunyai kepedulian atas peningkatan taraf hidup masyarakat."


"Selain itu juga memberikan inspirasi bagi kalangan dunia usaha, khususnya swasta untuk memperhatikan CSR yang secara jangka panjang dapat menjamin kelangsungan usaha mereka," kata Arifin.

28 Maret 2005

Sumbangan Karyawan AQUA untuk Anak-anak Aceh

Tanggal : 28 Maret 2005
Sumber : http://www.aqua.com/aqua_v3/ina/danoneaqua_aquacare_detail.php?p_id=6

Tepat tiga bulan setelah bencana dahsyat Tsunami memporakporandakan Aceh, AQUA meluncurkan bantuan 2000 tas sekolah (backpack) berisi perlengkapan tulis menulis (buku tulis, buku gambar, pensil, penghapus, penggaris) dan 200 paket pakaian muslim untuk anak-anak pengungsi korban bencana Tsunami yang kini tersebar di berbagai SD di Aceh.

Paket bantuan tersebut merupakan hasil sumbangan karyawan AQUA dan DDI ( Danone Dairy Indonesia) yang kemudian dilipatgandakan oleh perusahaan dengan jumlah yang sama.

Bantuan yang diserahkan 26 Maret 2005 lalu diharapkan dapat menyemangati anak-anak Aceh untuk kembali melanjutkan pendidikan.

Sebelumnya, DANONE Indonesia telah memberikan bantuan berupa 2 juta botol AQUA kemasan 600 ml, 2 juta BISKUAT kemasan 60 gr, dan 800 ribu botol MILKUAT. Bantuan tersebut telah didistribusikan ke berbagai penjuru Aceh dengan fokus utama pada daerah-daerah yang terkena musibah.

Saat ini, Tim AQUA sedang menjajaki proses pembangunan gedung sekolah dasar di Aceh. Kondisi fisik wilayah yang masih berantakan, dan penduduk yang belum kembali ke wilayah kediaman mereka, menyebabkan rencana ini agak tersendat. Dana bantuan ini, berasal dari karyawan DANONE EVIAN yang menyumbangkan upah 1 jam per hari selama jangka waktu yang ditetapkan perusahaan.