16 September 2006

Peduli Korban Banjir Sinjai ( Baitul Maal Bukopin & Bukopin Club )

Tanggal : 16 September 2006
Sumber : http://www.bukopin.co.id/ID/news_detail.cfm?id=29&ntype=3&lang=id

Karyawan/ti Tim Bakti Sosial Bank Bukopin Cabang Makassar ( Andi Dharma, Herlin, Amin, Rahman, Arkam, Basyir, Lia, Yani, Iwan, Hairil dan Frank) dan Baitul Maal Bukopin mengadakan bakti sosial yang berlokasi di 2 dusun yaitu Dusun Lembang dan Baringen di Desa Panaikan, Kec. Sinjai Timur, Kab. Sinjai.

Dusun Lembang merupakan daerah yang terkena dampak paling parah. Di lokasi ini sebagian besar warga meninggal dan hilang, serta 30 rumah dan masjid hilang disapu air bah yang datang secara tiba-tiba pada dini hari dengan volume yang sangat besar dan arus yang bergerak sangat cepat. Bantuan diberikan kepada 33 KK, 15 KK dari Dusun Lembang dan 18 KK dari Dusun Baringeng. Bantuan terdiri dari uang tunai,beras, gula, darung, dan pakaian layak pakai. Total bantuan sebesar Rp 8.000.000

07 September 2006

Kalbe Berbagi di Desa Cibatu Kabupaten Bekasi

Tanggal : 7 September 2006
Sumber : http://www.kalbefarma.com/index.php?mn=news&tipe=detail&detail=18590


Sudah sejak awal sebenarnya kegiatan-kegiatan sosial kepada masyarakat dilaksanakan oleh Kalbe Farma. Namun semenjak hal ini dibakukan dan menjadi salah satu syarat/kewajiban bagi perusahaan terbuka (go public), maka acara-acara ini dilaksanakan secara terbuka. Kegiatan yang lebih dikenal dengan nama CSR (Coorporate Social Responsibility) atau kegiatan sosial kepada masyakat dimasukkan ke dalam satu program yang disebut dengan Kalbe Berbagi. Bertepatan dengan perayaan Ulang Tahun ke-40, aktivitas Kalbe Berbagi dipusatkan di Desa Cibatu Kecamatan Lemahabang Kabupaten Bekasi, 7 September 2006.

CSR Kalbe Farma

Menurut Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Bpk Johannes Setiyono dalam temu pers, pada prinsipnya CSR Kalbe Farma itu ada dua bentuk. Bentuk pertama adalah yang berhubungan dengan produk seperti membersihkan dan mengecat WC-WC Umum (Neo Entrostop), Pemberian Beasiswa (Cerebrofort), Promag Mulia, dll. Bentuk kedua adalah CSR yang dilakukan tanpa ada hubungannya dengan produk. Salah satu contoh CSR jenis terakhir ini adalah acara yang dilakukan hari ini di desa Cibatu.


Pelbagai aktivitas


Aktivitas yang dipusatkan di Desa Cibatu, Kamis 7 September 2006, terdiri dari:

  • Merenovasi Puskesmas Pembantu Desa Cibatu
    Secara simbolik kegiatan ini diawali dengan pembukaan tirai papan berisi design Puskesmas Pembantu yang baru dan penurunan genteng. Hal ini dilakukan oleh Bupati Kepala Daerah Kabupaten Bekasi Bpk. H. Tenny Wishramwan bersama Bpk Johannes Setiono.
  • Membantu Posyandu Desa Cibatu
    Secara simbolik dilakukan penyerahan beberapa alat seperti jacket, timbangan dll., dari Direktris Kalbe, Ibu Ira Setiady kepada Ketua PKK, Ibu Hj Cicah Tenny Wishramwan
  • Pengobatan cuma-cuma
    Pengobatan cuma-cuma dilakukan kepada sekitar 500 penduduk desa Cibatu berlokasi di Balai Desa Cibatu.
  • Pemeriksaan fisik murid-murid SD Cibatu
    Dilakukan pemeriksaan kesehatan umum terhadap 277 murid-murid SD desa Cibatu, bertempat di SD yang dibangun PT Kalbe Farma 2 tahun yang lalu.
    Aktivitas lain yang juga berlangsung di SD ini adalah: Lomba Mewarnai (siswa kelas 1, 2 dan 3) dan Story Telling (siswa kelas 4, 5 dan 6)

Sambutan Bupati Bekasi, Bp H. Tenny Wishramwan


Dalam sambutannya, Bupati Bekasi menyebutkan bahwa aktivitas ini merupakan salah satu bukti konkrit dari partisipasi perusahaan-perusahaan yang berlokasi di Kabupaten Bekasi. Dengan adanya bantuan ini, berarti beban APBD berkurang.


Seperti diketahui saat ini di Kabupaten Bekasi, telah diterapkan pengobatan gratis bagi penduduk yang mau berobat di Puskesmas.


Alangkah indahnya jika, 10% saja dari 2080 pengusaha yang berlokasi di Kabupaten Bekasi melakukan hal ini, harap Bupati Bekasi yang baru menjabat 4 bulan ini.


Sebagai data tambahan dijelaskan bahwa jumlah Puskesmas = 34 dan Puskesmas Pembantu ada 50. Setidaknya 20% dari puskesmas pembantu itu perlu direnovasi.


IBL Conference On CSR di Buka Hari Ini

Tanggal : 07 September 2006
sumber : http://tambangnews.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=5&artid=158

Jakarta, Tambangnews.com.-
Konferensi Nasional mengenai Corporate Sosial Responsibility (CSR) yang diselenggarakan oleh sektor Swasta, IBL Conference on Corporate Sosial Responsibility 2006 dibuka secara resmi hari ini (7/9) oleh Menteri Koordinator Perekonomian RI, Dr. Boediona bertempat di Hotel Ritz Calton Jakarta

Dalam sambutan pembukaannya menyatakan bahwa CSR merupakan elemen prinsip di dalam tata laksana kemasyarakatan yang baik, dan bukan hanya bertujuan memberi nilai tambah bagi para pemegang saham.

"Pada intinya, pelaku CSR sebaiknya tidak memisahkan aktifitas CSR dengan Good Corporate Governance karena keduanya merupakan satu continuum, bukan merupakan penyatuan dari beberapa bagian terpisah," kata Boediono. "Dengan demikian CSR tidak hanya mencakup apa yang seharusnya dilakukan sebagai anggota masyarakat tapi juga melihat apa yang sebaiknya tidak dijalankan, yang seringkali terlewat dan diremehkan, seperti mengeksploitasi yang lemah dan menjalankan praktek penyuapan untuk melaksanakan program CSRnya."

Dalam diskusi antara presiden Direktur PT. Newmont Pacific Nusantara dan CEO kelompok Kompas Gramedia, Jakob Oetama tentang CSR benefits for the Business Society berdasarkan pengalaman mereka yang berbeda, ternyata terdapat benang merah bahwa tidak hanya masyarakat yang memperoleh manfaat dari korporasi, akan tetapi korporasi juga belajar dari masyarakat, mendapat manfaat bagaimana kehidupan bermasyarakat.

Acara yang di gagas oleh Indonesia Bisnis Link (IBL) akan berlangsung selama dua hari dan diikuti sebanyak 300 peserta, wakil dari perusahaan asing dan dalam negeri di Indonesia, maupun perseorangan hadir dalam konferensi ini, untuk mendengarkan makalah-makalah yang disampaikan oleh 33 pembicara dari dalam dan luar negeri.

"Semoga kenferensi ini mencapai tujuan yang telah kami tetapkan, yaitu mengajak semua kalangan utamanya kalangan pelaku bisnis, untuk menjadikan CSE sebagai salah satu aspek penting dalam kegiatan bisnis mereka, serta mulai melaksanakan kegiatan bisnis yang bertanggung jawab," tutup pendiri Indonesia Bisnis Link (IBL), Noke Kiroyon.

01 September 2006

CSR Bukan Sekadar Promosi

Tanggal : 1 September 2006
Sumber : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0609/01/teropong/2921326.htm

Kisah sukses bisnis produsen kosmetik The Body Shop tak lain adalah kisah sukses entitas bisnis untuk membangun kepercayaan publik melalui implementasi tanggung jawab sosial perusahaan.


Didirikan tahun 1976 di Inggris, The Body Shop kini melayani lebih dari 77 juta pelanggan di 55 negara.


Survei yang dilakukan Booth-Harris Trust Monitor (2001) menunjukkan mayoritas konsumen akan meninggalkan suatu produk yang mempunyai citra buruk atau diberitakan negatif.


Pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) berupa kegiatan filantropi dan pengembangan komunitas, umumnya dikemas untuk mengupayakan citra positif alias promosi.


Lebih jauh dari sekadar promosi, semakin berkembang pula pandangan bahwa keunggulan bersaing bisa dihasilkan dengan memadukan berbagai pertimbangan sosial dan lingkungan dalam strategi bisnis.


Philip Kotler dan Nancy Kotler dalam Corporate Social Responsibility, Doing the Most Good for Your Company and Your Cause (2005), secara praktis menunjukkan, bagaimana perusahaan memaksimalkan tingkat pengembalian investasi melalui sejumlah kegiatan dan inisiatif sosial yang berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungannya.


Akan tetapi, Maria Nindita Radyati, kandidat doktor pada University of Technology Sydney yang sedang mendalami CSR mengingatkan, tujuan akhir pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan adalah menempatkan entitas bisnis dalam upaya pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, tanggung jawab sosial itu seharusnya menginternalisasi pada semua bagian kerja pada suatu pekerjaan.


"CSR itu seharusnya merupakan keputusan strategis perusahaan sejak awal dari mendesain produk yang ramah lingkungan, hingga pemasaran, dan pengolahan limbah. Selain itu, secara eksternal CSR juga memastikan jangan sampai perusahaan justru mengurangi kesejahteraan masyarakat di lingkungan sekitarnya," ujar Nindita.


Artinya, pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan perlu diupayakan di lingkungan internal dan eksternal. Pada lingkungan internal, perusahaan misalnya bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, memerhatikan kesejahteraan karyawan, serta menjalankan manajemen yang beretika.


Terkait pelaksanaan CSR pada lingkungan eksternal perusahaan, Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric, mengemukakan, perusahaan yang mengolah sumber daya alam maupun sumber daya manusia pada hakikatnya adalah milik publik serta bertanggung jawab untuk memberi manfaat pada masyarakat.


Pelaku bisnis membutuhkan dukungan lingkungannya. Oleh karena itu, sikap responsif terhadap kebutuhan lingkungan menjadi keharusan. Selain tuntutan lingkungan yang tertera pada regulasi, tidak bisa diabaikan pula tuntutan lingkungan yang tidak secara langsung disebutkan dalam peraturan publik.


Tergantung pada lingkungan


Meluasnya tuntutan publik serta menguatnya kesadaran pelaku usaha untuk menjalankan CSR, antara lain, tampak pada dibentuknya World Business Council for Suistainable Development (WBCSD).


Sebanyak 180 perusahaan internasional dari 35 negara berkoalisi dalam organisasi itu. Perusahaan-perusahaan ini bergabung dengan komitmen mencapai pembangunan berkelanjutan, melalui pertumbuhan ekonomi, keseimbangan ekologi, dan kemajuan sosial.


Albert Fry yang pernah menjadi salah seorang manajer pada WBCSD menyatakan, pada dasarnya musuh terbesar bagi lingkungan adalah kemiskinan.


Jika pada suatu kawasan yang kaya sumber daya alam, beroperasi perusahaan internasional yang meraup keuntungan besar, tetapi masyarakat di lingkungan sekitarnya didera kemiskinan, tentu terjadi ketidakadilan sosial yang perlu diluruskan. Ironi demikian juga terjadi pada beberapa kawasan kaya sumber daya alam di Indonesia, seperti Papua dan Kalimantan.


Nindita berpendapat, untuk menciptakan keadilan sosial, dibutuhkan kerja sama antara perusahaan, pemerintah, dan komunitas yang mencakup masyarakat dan organisasi nonpemerintah. Pertanyaannya, di kawasan-kawasan kaya negeri ini yang rakyatnya miskin itu, bisakah perusahaan, pemerintah, dan komunitas bekerja sama sebagai mitra yang dapat saling memercayai?


Mengutip laporan penelitian terbaru pada Journal Compilation, terbitan Blackwell Publishing, Mei 2006, Nindita menjelaskan, aktivitas CSR di Inggris dinilai jauh lebih maju dibandingkan kegiatan serupa di Amerika Serikat. Inggris memberlakukan aturan yang lebih jelas untuk melakukan pelaporan kegiatan CSR. Tidak demikian halnya dengan Amerika Serikat.


Penelitian itu menunjukkan, kesadaran perusahaan-perusahaan di Inggris untuk melakukan CSR lebih terdorong karena kontrol aktif dari para pemangku kepentingan yakni karyawan, pimpinan manajemen, pemilik perusahaan, konsumen, pemerintah, lembaga nonpemerintah, dan perguruan tinggi.


Para pemegang saham, misalnya, meyakini keunggulan kompetitif untuk berinvestasi pada perusahaan yang aktif menjalankan kegiatan CSR, sedangkan pimpinan manajemen terdorong oleh norma etika bisnis.


Di Indonesia


Bagaimana tanggung jawab sosial perusahaan-perusahaan di Indonesia? Kerusakan lingkungan terus-menerus meluas di negeri ini, kemiskinan, dan pengangguran terus bertambah. Kemelut tersebut menjadi tantangan bersama yang harus dijawab pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat.


Ernst & Young meyakini, prinsip-prinsip kewirausahaan yang membuat pelaku usaha mampu mengatasi kerumitan prosedur birokrasi dan berkelit dari tekanan dan tantangan pasar seharusnya dapat diaplikasikan untuk mengatasi masalah-masalah sosial.


Uniknya, sepanjang penyelenggaraan program penghargaan Ernst & Young Entrepreneur of the Year, komitmen terhadap perbaikan lingkungan sosial diidentifikasi sebagai karakter yang menonjol pada pengusaha-pengusaha sukses di berbagai negara.


Oleh karena itu, mulai tahun ini Ernst & Young menambahkan satu kategori dalam program penghargaannya, yakni Social Entrepreneur of the Year. Tentu saja tujuannya untuk mendorong para pengusaha untuk berlomba-lomba dengan komitmen penuh untuk melaksanakan tanggung jawab sosialnya.


Akan tetapi, potensi dunia bisnis untuk menjalankan perubahan sosial melalui pelaksanaan tanggung jawab sosial tidak dapat tercapai optimal jika aturan tidak ditegakkan, bahkan oleh penegak hukum. Kemitraan antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas hanya dapat berjalan jika ada kepercayaan dan sikap keterbukaan.(Nur Hidayati)